RadarSumsel.com-INDRALAYA. Mahasiswa Program Pascasarjana Institut Agama Islam Al-Qur’an Al-Ittifaqiah Indralaya (IAIQI) Febriyanti dinyatakan lulus dengan predikat (A) dan berhak menyandang gelar Magister Pendidikan Islam (M.Pd) tepat waktu menyelesaikan proses perkuliahan empat semester dengan melakukan penelitian tentang “Evaluasi Program Sanad Al-Qur’an di Lembaga Tahfizh Tilawah dan Ilmu Al-Qur’an di Ponpes Al-Ittifaqiah Al-Ittifaqiah” Jum’at 30 Juni 2023
Dalam sidang terbuka sekaligus promosi hasil tesis dengan Tim Penguji Ketua Dr. Firdaus Basuni, M.Pd sekretaris Dr. Dwi Noviani. M.Pd.I dengan Penguji I Dr.Hilmin, SH, S.Pd.I.,M.Pd.I Penguji II Dr. Imam Nasruddin, M.Pd. sidang berlangsung selama satu jam dengan pertanyaan dan konfirmasi dari Tim Penguji terhadap hasil penelitian.
Febriyanti menjelaskan bahwa dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh Program Sanad Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh Lembaga Tahfizh Tilawah dan Ilmu Al-Qur’an di Ponpes Al-Ittifaqiah Al-Ittifaqiah yang telah terbentuk sejak 2004 telah berlangsung selama 19 tahun, namun program tersebut kurang memiliki progres hasil yang maksimal. Sedangkan program sanad Al-Qur’an merupakan benteng pertahanan untuk menjaga kemurnian dan keaslian dalam mempelajari tentang ilmu Tahsin, Tahfizh, Tilawah dan Ilmu-Ilmu Al-Quran.
“Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara, dokumentasi, observasi dan pengujian keabsahan data dengan menggunakan triangulasi Teknik dan Triangulasi Sumber”. Tutur Febriyanti yang juga Istri dari Dr. Zaimuddin, M.Si
Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran Al-Quran harus memiliki guru yang yang kompetensinya bersanad tersambung sampai kepada Rasulullah SAW untuk memastikan ketersambungan dari guru ke guru sehingga belajar Al-Quran bukan hanya sekedar menghafal dan mengetahui saja lebih dari itu bisa dipertanggung jawabkan secara metodologi keilmuannya.
Febriyanti yang juga pengajar di Ponpes Al-Ittifaqiah ini mengatakan bahwa pengambilan sanad tahfizh Al-Quran di LEMTATIQI Pertama mujahadah ula santri menyimakkan hafalan kepada guru, mujahada tsaniah santri menjalankan tirakat puasa selama 40 hari dan selama 24 jam santri mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak satu kali sehari, mujahada tsalisa/ majelis syahadah santri disimak dalam pembacaan 30 juz oleh 1 majelis kemudian pemberian sanad Al-Qur’an.
“Dalam hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil evaluasi konteks program sanad merupakan turunan dari visi, misi dan program di dalam Ponpes Al-Ittifaqiah untuk membentuk generasi qur’ani yang mutaqin, berakhlak Qur’ani yang kelak akan menjadi rahmatan lilalamin” Ujar Febriyanti perempuan kelahiran Pemulutan Ogan Ilir
Lebih lanjut ia mengatakan terdapat kelemahan dalam proses input santri yang mengambil program sanad al-Qur’an, minat santri untuk mengikuti program ini masih sangat kurang sehingga pihak LEMTATIQI harus memberikan skema dan upaya baru agar menarik minat bagi santri agar mengikuti program sanad.
Selanjutnya evaluasi proses telah berlangsung dengan baik sebagai upaya untuk membentuk dan membina para santri agar menuntaskan tahapan dan proses dalam pengambilan sanad yang dilaksanakan oleh para guru pembina, namun terdapat beberapa kelemahan pelaksanan program sanad belum tampak sebagai program prioritas, hal ini tampak dari perencanaan kegiatan pembelajaran yang belum tersistematis dan terencana secara berkala.
“Evaluasi hasil dalam program sanad Al-Qur’an perlu ada penguatan dan pembinaan serta evaluasi program, tampak dari hasil lulusan secara kuantitas masih sangat sedikit dan minim, secara kuantitas lulusan yang ada cukup baik dan mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh para guru” Tutup P
ebriayanti


Comment