Penulis; Dr.Hilmin, S.H.,M.Pd.I
Dosen Pascasarjana Universitas Al-Qur’an Ittifaqiah (UQI) Indralaya Sumatera Selatan
Di tengah zaman yang kian materialistis dan hedonis, umat Islam semakin terjebak dalam kesibukan yang tak ada habisnya. Tekanan sosial, ekonomi, dan pencarian validasi diri seakan mendorong manusia untuk berlari mengejar kepuasan duniawi yang bersifat sementara. Dunia ini, dengan segala gemerlapnya, seakan menutupi hakikat kehidupan yang sebenarnya.
Begitu banyak orang yang melupakan esensi sejati hidup yaitu hubungan mendalam dengan Allah dan pemahaman tentang tujuan hidup yang lebih luhur. Hal ini sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Quran: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka (QS.al-anam:32)
Kehidupan dunia yang sibuk dengan segala urusan lahiriah ini membuat hati dan jiwa manusia terkubur dalam rutinitas yang monoton, mengabaikan aspek batin dan spiritual. Perhatian kita lebih sering terfokus pada materi dan status sosial yang pada akhirnya menjauhkan kita dari tujuan sejati hidup. Ketika tubuh dan batin terpisah, maka jiwa menjadi gelisah dan tidak dapat menemukan kedamaian yang hakiki.
Untuk itulah, Ramadhan datang sebagai sebuah momen spiritual yang membawa kita kembali kepada fitrah kita sebagai hamba Allah yang sebenar-benarnya.Imam Al-Ghazali dalam teori tasawufnya mengajarkan tiga tahap penting dalam proses pembersihan jiwa yang sejalan dengan makna mendalam Ramadhan.
Tiga tahap ini adalah takholli, tahalli, dan tajalli, yang pada puncaknya membawa seseorang kepada pertemuan dengan Allah, mencapai kesadaran yang fana dalam makrifatullah.
Takholli; Pembersihan Jiwa dari Noda Duniawi
Tahap pertama yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali adalah takholli, yaitu pembersihan jiwa dari segala sifat tercela dan perbuatan buruk. Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk mengosongkan diri dari kebiasaan buruk dan segala pengaruh duniawi yang mengotori hati. Seperti halnya dalam berpuasa, umat Islam menahan diri tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari perilaku yang bisa merusak hati, seperti dengki, iri, dan kebencian.
Proses takholli ini adalah tahap awal yang penting, di mana seseorang membersihkan diri dari segala ketergantungan terhadap dunia dan mengarahkan hati kembali kepada Allah. Bulan Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk merenung dan menyadari segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, serta memohon ampun kepada Allah.
Dalam kehidupan sosial, ini juga berarti menghilangkan segala sikap buruk yang memengaruhi hubungan kita dengan sesama. Ketika seseorang berusaha membersihkan hati dan pikirannya dari perasaan negatif, ia akan mampu menghidupkan kembali nilai-nilai keadilan, kasih sayang, dan saling menghormati dalam masyarakat.
Tahalli; Memprogram Perilaku Menuju Kebaikan.
Setelah melakukan takholli, tahap selanjutnya adalah tahalli, yakni menanamkan sifat-sifat baik yang bisa mengarahkan diri kepada kebajikan. Di sinilah Ramadhan berfungsi sebagai program pembentukan karakter. Bulan puasa memberikan kesempatan untuk menanamkan kesabaran, keikhlasan, empati, dan sifat-sifat terpuji lainnya. Dalam mengelola hidup sehari-hari, seseorang dilatih untuk lebih sabar menghadapi ujian, lebih peka terhadap penderitaan sesama, dan lebih dermawan.
Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya tahalli sebagai upaya untuk menumbuhkan sifat-sifat yang selaras dengan tuntunan Allah. Tanpa langkah ini, seseorang akan mudah terjerumus kembali ke dalam perangkap duniawi. Melalui ibadah puasa, umat Islam diingatkan untuk membiasakan diri berbuat baik dan memperbaiki hubungan dengan sesama, dengan niat semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah.
Tajalli; Puncak Kesadaran Spiritual dalam Makrifatullah.
Tahap tertinggi dalam ajaran Imam Al-Ghazali adalah tajalli, yaitu perwujudan cahaya ilahi yang mengalir dalam diri seseorang, membawa puncak kesadaran spiritual yang mendalam. Dalam konteks Ramadhan, tajalli terjadi ketika seseorang, setelah melalui pembersihan (takholli) dan penanaman sifat-sifat terpuji (tahalli), akhirnya merasakan kedekatan yang mendalam dengan Allah. Saat itu, jiwa mencapai keadaan nafs al-mutmainnah, jiwa yang tenang, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Q.S. Al-Fajr. 27-30).
Dalam kondisi tajalli, jiwa manusia seolah telah mencapai titik fana, yaitu keadaan di mana segala keinginan dan ego pribadi terhapus, dan ia hanya mengenal Allah. Ini adalah puncak makrifat, yaitu pertemuan langsung jiwa dengan Sang Pencipta. Tidak ada lagi yang dapat mengganggu ketenangan jiwa yang telah mencapai kesadaran yang paling tinggi.
Insan Kamil; Manusia yang Sempurna dalam Kehidupan Sosial.
Kesadaran yang tercapai melalui tahalli, takholli, dan tajalli membawa seseorang kepada kesempurnaan sebagai insan kamil, yaitu manusia yang sempurna dalam kejiwaan, akal, dan perilaku. Pada tahap ini, seseorang mampu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan harmoni antara batin dan lahir. Keberadaan insan kamil ini tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Sebagai khalifah fil ardi, manusia memiliki tugas mulia untuk menjaga peradaban dunia ini dengan nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran Allah. Ketika manusia telah mencapai tahap ini, maka segala bentuk perilaku tercela, seperti korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan, akan hilang.
Ramadhan sebagai waktu untuk introspeksi dan pembaruan diri seharusnya membawa umat Islam untuk menjadi sosok yang lebih adil, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam segala aspek kehidupan. Pada akhirnya, puncak dari perjalanan spiritual ini adalah menjadi insan kamil, manusia yang sempurna dalam hubungan dengan Allah dan sesama.
Sebagaimana diajarkan oleh Imam Al-Ghazali, takholli, tahalli, dan tajalli adalah proses yang membawa manusia menuju kesadaran tertinggi, di mana mereka mencapai kedamaian batin dan mampu memberikan kontribusi positif bagi dunia. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbarui diri, mencapai kesempurnaan spiritual, dan membangun peradaban yang lebih mulia.
Islam secara jelas mengajarkan umatnya untuk tidak terperangkap dalam kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Dalam ajaran Islam, keberhasilan duniawi dan ukhrawi harus berjalan seiring, karena keduanya saling melengkapi dalam menciptakan kehidupan yang seimbang. Umat Islam tidak hanya diperintahkan untuk menjadi cerdas secara spiritual, tetapi juga untuk menjadi bijak dalam mengelola hidupnya secara material.
Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengembangkan potensi diri, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan hidup. Proses pembelajaran dan pengembangan diri ini tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat.
Dengan menuntut ilmu dan memperluas wawasan, umat Islam dapat menjadi individu yang mampu berkontribusi dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di lingkungan sekitar, menjadikan mereka sebagai agen perubahan yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia.
Sebagai umat yang diajarkan untuk berbagi, ajaran Islam menekankan pentingnya mengelola harta dengan baik agar dapat memberikan manfaat bagi sesama. Zakat, infaq, dan shodaqoh adalah instrumen sosial yang mendidik umat Islam untuk menjadi kaya bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk membantu orang lain.
Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah hanya sekadar akumulasi materi, tetapi bagaimana materi tersebut dapat digunakan untuk kebaikan bersama. Dengan memiliki kekayaan, umat Islam diberi tanggung jawab untuk mendistribusikan sebagian dari kekayaan tersebut kepada mereka yang membutuhkan. Ramadhan, sebagai bulan yang penuh berkah, mengingatkan kita bahwa salah satu tujuan utama dalam hidup adalah berbagi, memberi kepada sesama, dan membantu mereka yang kurang beruntung.
Inilah titik awal dari kewajiban sosial umat Islam untuk tidak hanya memperkaya diri, tetapi juga memperkaya kehidupan orang lain melalui tindakan kedermawanan. Dengan demikian, kekayaan bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan sosial bagi umat manusia. Kesadaran spiritual ini bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kemajuan peradaban umat manusia.
Saat kita membersihkan diri dari segala dosa, menanamkan sifat-sifat terpuji, dan merasakan kedekatan dengan Allah, kita bisa mencapai kehidupan yang lebih bermakna, memberikan dampak positif bagi masyarakat, dan mewujudkan peradaban yang lebih adil dan sejahtera.
Dengan pemahaman yang benar tentang Ramadhan dan proses spiritual yang terkandung di dalamnya, umat Islam dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mewujudkan dunia yang lebih baik. Sebagai umat yang dipilih oleh Allah untuk menjadi khalifah fil ardi, sudah seharusnya umat Islam menjadi teladan dalam menciptakan dunia yang lebih damai, adil, dan sejahtera.



Comment