Setiap tanggal 21 April dijadikan sebagai hari bersejarah bagi kaum perempuan Indonesia adalah hari Kartini, mengenang di era kolonial Belanda R.A Kartini berjuang untuk kaumnya, melalui tulisan yang dimuat oleh majalah perempuan di Belanda yang bernama De Hoandsche Leile. Dalam suratnya tersebut, R.A Kartini menyatakan keprihatinannya atas nasib-nasib orang Indonesia di bawah kondisi Pemerintah Kolonial. Tulisan-tulisannya itu dibukukan, kemudian diberi judul Door Duisternis tot Licht atau Kegelapan menuju Cahaya, tahun 1922 tulisan tersebut diterbitkan menjadi buku kumpulan surat R.A Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari buku inilah menjadi spirit baru terhadap perempuan Indonesia.
Dalam kesempatan ini melakukan wawancara dengan senator Hj.Eva Susanti,SE Anggota DPD RI Dapil Sumatera Selatan tentang makna hari Kartini dalam konteks Perempuan di Era sekarang.
Apa kabar Ayunda Eva Susanti?
Alhamdulillah baik dan tetap semangat, semoga kita semua sehat selalu dalam lindungan Allah SWT. Di bulan ramadhan saya tetap aktivitas seperti biasa dan menjalankan tugas serta fungsi sebagai Anggota DPD RI.
Setiap tahun kita mengenang hari Kartini, sebagai hari bersejarah bagi perempuan Indonesia. Bagaimana pandangan Ayunda Eva Susanti?
R.A Kartini merupakan sosok inspirasi bagi sejarah kaum perempuan dulu, kini dan masa akan datang, terutama kesetaraan antara perempuan dan laki-laki terhadap akses dan kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak, dan Alhamdulillah saat ini Negara kita Indonesia telah memberikan kesempatan yang sama tidak ada lagi pembeda antara laki-laki dan perempuan semua boleh menentukan pilihan untuk mengeyam pendidikan, kesempatan masuk dalam kanca perpolitikan, bahkan undang-undang telah mewajibkan calon Anggota DPR RI, DPRD harus ada keterwakilan perempuan.
Oleh karena itu, kesempatan dan peluang yang sudah terbuka luas bagi kaum perempuan, dimaksimalkan dan di isi dengan terus belajar mengasah kemampuan diri, baik dengan pendidikan formal maupun dengan pendidikan non formal. Karena untuk dapat memposisikan kesetaraan gender ukurannya adalah profesionalitas dan kemampuan diri dalam bidang yang di tempati, untuk saat ini hampir di setiap instansi pemerintahan sudah tidak adalagi masalah urusan gender.
Apa saran dan pandangan Ayunda Eva Susanti bagi kaum perempuan Indonesia?
Kemandirian perempuan yang tidak boleh bablas dari kodratnya; menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh serta mengabdi dengan suami. Perempuan Indonesia itu hebat dan kuat, kehidupan kita dijaga oleh nilai-nilai keagamaan dan budaya adat. Maka disinilah kelebihan perempuan Indonesia dibandingkan dengan perempuan bangsa lain.
Maka saya memiliki pandangan, sehebat apapu dan setinggi apapun jabatannya. Perempuan tidak boleh mengabaikan rumah tangganya suami dan anak-anak tetap prioritas yang harus diurus dengan baik. Terutama anak yang masih harus disentuh dengan asuhan langsung ibunya, apabila baik dalam mengasuh dan mengurus anak sama halnya kita telah menyiapkan generasi anak bangsa yang baik. Karena kunci masa depan bangsa itu berajak dari pendidikan dalam rumah tangga.


Comment