by

Berikut Ini 7 Hal yang Harus Dipahami, Siapkah Masyarakat Sumsel Hadapi New Normal Life?

-Kesehatan-294 views

Radar Sumsel.Com, PALEMBANG – Banyak muncul pertanyaan, siapkah masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini dua kota dengan jumlah kasus positif Virus Corona terbanyak, Palembang dan Prabumulih untuk menghadapi New Normal Life.

Pengamat Sosial dan Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Abdullah Idi. M.Ed mengatakan bahwa Sumsel sebenarnya sudah siap dalam menuju new normal nantinya.

Berikut ini point-point yang harus masyarakat pahami menuju new normal life.

1. Secara sosial, masyarakat pada umumnya patuh dengan regulasi atau protokoler kesehatan.

Namun hal yang penting, konsistensi penegakan aturan protokoler, termasuk pemberian sanksi yang tegas tapi edukatif selama masa PSBB, yang dapat menjadi kebiasaan nantinya saat new normal dilakukan.

Memasuki new normal, hal ini tergantung sukses atau tidaknya penerapan PSBB dalam menuju new normal.

Masyarakat Sumsel berpotensi sangat siap asalkan aktualisasi atau implementasinya mengedepan standar operasional (SOP) yang telah ditentukan pemerintah.

“Dalam impelementasinya dibutuhkan komitmen, kolektivitas, sinergisitas, dan integritas semua elemen terkait,” ujarnya saat diwawancarai via whatsapp, Kamis (28/05/2020).

2. Sedangkan secara ekonomi, masyarakat Sumsel tipe masyarakat kerja keras dan mandiri.

Sehingga pemberian ruang-ruang kegiatan ekonomi tetap harus berlanjut, namun dalam koridor kepatuhan terhadap protokoler kesehatan.

“Social distancing dan physical distancing dengan menjaga jarak dan menghindari kerumunan mutlak diterapkan,” ujarnya.


Kesiapan instrumen atau APD kesehatan bagi semua baik tenaga medis, masyarakat, aparat terkait, dan pihak lain tanpa terkecuali mutlak dilakukan.

3. New normal dapat dikatakan sebagai tradisi lama dalam bentuk baru atau disebut neo-tradition.

Dimana dalam banyak hal, sebetulnya masyarakat di bumi nusantara ini sudah melakukannya.

Kebiasaan mencuci tangan dan bagian anggota tubuh lainnya atau bisa juga berwudhu sebelum menunaikan shalat bagi umat muslim sudah dilakukan sebagai perintah agama.

4. Dalam perkembangannya, masyarakat memasuki ilmu pengetahuan dunia modern.

Sebagaimana saat ini berinteraksi secara budaya melalui instrumen teknologi komunikasi, yaitu televisi, radio, internet, smartphone, dan lain sebagainya, sehingga terjadi akulturasi.

“Sehingga sebagian budaya lokal dan nasional terasingkan,” ujarnya.

Seperti anjuran tata-cara cuci tangan, berkumur dan bersin untuk mencegah menularnya pandemi virus corona, hal ini berarti sama saja seperti pengulangan praktek yang lazim sebagian besar masyarakat.

Terutama umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia yang sekurangnya menunaikan ibadah shalat lima waktu.

5. Jika sebagian besar umat beragama terutama Islam, menjalankan ajaran agamanya dan menyadari pentingnya arti kesehatan.


Maka sebetulnya ajakan menuju New Normal bukanlah hal yang sulit karena bersifat neo-habit atau tradition saja.

“Tapi hal ini tergantung pada sejauhmana hal itu dipraktekkan pada diri individu dan masyarakat,” ujarnya.

Semakin religius seseorang umat beragama, semakin mudah dan ringan dalam melaksanakan kebiasaan hidup bersih, disiplin, dan positif thinking.

Hal ini juga barang kali, banyak negara-negara ASEAN kalau dikalkulasikan presentasenya berada posisi level terendah dibandingkan Amerika, Eropa dan Cina-Korea.

Sebagian kalangan meyakini hal itu dikarenakan negara-negara ASEAN umumnya negara yang mengedepankan praktek nilai-nilai spiritualitas-keagamaan.

6. Kebutuhan perilaku sosial pada New Normal nantinya juga sangat relevan, dengan apa yang menjadi keyakinan masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia serta masyarakat Palembang khususnya.

Dimana lama atau tidaknya new normal ini menjadi kebiasaan baru, agaknya tergantung beberapa faktor yang bersifat sistemik.

Kembali pada kebijakan PSBB dalam upaya menuju new normal yang idealnya dipandang sebagai kebutuhan setiap orang dan anggota masyarakat.

Nantinya kebiasaan-kebiasaan baru yang bersifat positif dari new normal tersebut harus tetap dipraktekkan dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.

Karena menurut ahli kesehatan, dalam siklus tertentu, 10 tahun sekali, virus dalam bentuk dan nama lain dapat muncul lagi.

“Jika masyarakat siap maka apapun virusnya mesti siap, seperti kita sudah biasa menghadapi virus influenza,” ujarnya.

7. Hal terpenting, pengalaman wabah Virus Corona dan memasuki masa new normal nantinya perlu dijadikan bekal kesiapan pengetahuan dan pengalaman untuk kehidupan generasi selanjutnya.

Penyakit dan virus seakan tidak dapat diprediksi tetapi upaya preventif dan kuratif atau pengobatan mesti disiapkan.

“Sehingga secara mental pun masyarakat akan siap sendirinya,” ujarnya.


Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Siapkah Masyarakat Sumsel Hadapi New Normal Life? Berikut Ini 7 Hal yang Harus Dipahami,

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *