by

Demi Stabilitas Harga, Pemerintah Musnahkan 28 Juta Telur dan Anak Ayam

-Ekonomi-259 views

Radar Sumsel – JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kementan) akan memusnahkan sebanyak 28 juta telur tertunas (HE) pada Desember 2019.

Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga acuan ayam ditingkat peternak.

Sebelumnya pada November yang lalu pemerintah juga sudah melakukan pengurangan populasi ayam potong. Total pemusnahan HE selama bulan November mencapai 8 juta ekor atau 2 juta ekor per minggu.

Menurut Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), Alviono Antonio, Rabu (27/11/2019) menyambut baik kebijakan pemerintah untuk DOC FS broiler 10 juta per minggu untuk mendukung stabilisasi harga ayam hidup.  

Sebab menurut dia, harga ayam ditingkat peternak terus turun hingga Rp 16.000 per ekor jauh dari harga acuan Rp 18.000 – Rp 20.000 per ekor.

Sebelumnya, para peternak yang menamai diri mereka PPRN ini sudah berunjuk rasa di depan kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag). Mereka menuntut pertanggungjawaban kebijakan impor 670 ribu indukan ayam oleh pemerintah pada 2017 lalu yang kini mengakibatkan stok ayam hidup terlalu melimpah. Turunnya harga ayam karena stok berlebih membuat para peternak mengaku rugi hingga Rp2 triliun.

Cara sadis ini dipilih untuk mengatasi kelebihan pasokan ayam di pasaran yang bikin harga kembali anjlok. Kata peternak lokal, ini semua gara-gara pemerintah membuka impor. Sudah memaksa para ayam memproduksi telur lewat cara-cara tidak normal, kini setelah kelebihan kuota, jutaan ayam akan dibunuh begitu saja atas nama kontrol harga. Keputusan resmi ini diambil Kementerian Pertanian (Kementan) pada 27 November lalu. Anjloknya harga ayam karena kelebihan suplai membuat 7 juta bibit ayam akan dimusnahkan setiap minggu sejak Desember 2019.

“Ayam yang dimusnahkan adalah DOC atau ayam yang baru berumur sehari dan yang akan menetas. Ini sebagai upaya agar harga ayam di tingkat peternak yang saat ini rendah kembali normal. Harga ayam yang jatuh di tingkat peternak saat ini disebabkan produksinya yang melimpah di pasaran. Jadi dengan pemusnahan ini diharapkan bisa mengurangi produksi sehingga harga bisa kembali normal,” jelas Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Toto Subandriyo kepada Tagar.

Di masa mendatang, masalah yang dihadapi industri unggas Indonesia akan semakin kompleks karena Indonesia resmi kalah dalam sengketa impor ayam dengan Brasil di sidang Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Hasil dari sidang yang sudah digelar sejak 2017 lalu itu membuat Indonesia wajib menerima impor unggas dari Brasil. Meski proses impor masih panjang, namun kelebihan produksi yang saat ini sudah terjadi bisa semakin rumit ketika ayam Brasil mulai masuk. Apalagi ayam Brasil disinyalir lebih jago bermain sepak bola.

Artikel ini dirangkum dari sumber https://www.vice.com dan https://insight.kontan.co.id

(**ZRQ)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *